Gangguan Gagal Ginjal Kronis

Ginjal memiliki kemampuan filtrasi glomerulus pada anak sehat umur diatas 2 tahun adalah 89 ml/menit/1,73 m2. Apabila kemampuan filtrasinya menetap dibawah angka tersebut, maka keadaan ini disebut sebagai insufisiensi renal kronik. Bilamana kemudian gejalanya nyata-nyata didapatkan secara klinis, maka kini keadaan tersebut disebut sebagai gangguan gagal ginjal kronis dan keadaan seperyi ini memerlukan pengobatan yang spesifik. Gejala yang sering ada diantaranya hipertensi, hiperfosfatemia, asidosis, anemia, dan gagal tumbuh yang biasanya timbul apabila kemampuan filtrasi glomerulus dibawah 30 ml/menit/1,73 m2.

Pada keadaan yang lebih berat  dimana kemampuan filtrasi glomerulus semakin rendah, dibawah 10 ml/menit/1,73 m2 disebut sebagai stadium terminal dari penyakit ginjal ini. Bila pada stadium ini tidak dilakukan usaha unutk menopang fungsi ginjal maka umur anak tidak dapat dipertahankan lagi. Filaisis atau transplantasi adalah salah satu cara untuk menekan komplikasi serius akibat gangguan gagal ginjal kronik. Penyebab dari gangguan gagal ginjal kronik dan stadium terminal penyakit ginjal pada anak dan remaja adalah ; glomerulonefritis, nefropati refluks, kelainan congenital (sidroma Alport, nefronoptisisi, sistinosis, penyakit polisistik, dll), dysplasia(dengan obstruksi atau tanpa obstruksi, dan sindroma uremik hemolitik.

Ginjal dalam keadaan demikian akan tidak mampu berperan sebagaimana mestinya, oleh karena terjadi kegagalan fungsinya. Gambaran klinis penting yang sering tampak pada penderita CGK adalah ; gagal tumbuh, osteodistropi renal, letargi/kehilangan kalori, anemia, hipertensi, dan anoreksial. Pada keadaan dimana penderita tidak mendapat perawatan dengan baik atau tidak berobat maka dapat timbul mual dan muntah, neuropati perifer serta perikarditis. Gagal tumbuh yang terjadi biasanya disebabkan oleh masukan diit yang tidak adekuat, osteodistropi renal (hiperparatiroidisme dan rikets), asidosis, kelebihan garam, energy gagal dipergunakan, toksisitas uremik dan perubahan-perubahan endokrin pada gangguan gagal ginjal kronis ini.

Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah gagal ginjal kronis adalah secara garis besarnya terbagi menjadi dua, yakni :

  1. Pengobatan konservatif, disini termasuk pemberian obat dan pengaturan diit.
  2. Dialisis dan transplantasi ginjal ; bila ginjal sudah tidak berfungsi sama sekali, yaitu sekitar 5 ml/menit/1,73 m2 (5% dari kemampuan normalnya). Sebaiknya pada saat kemampuan filtrasi glomerulus sudah mencapai < 10 ml/menit/1,73 m2, tindakan dialysis hendaknya sudah mulai dilakukan.

Tujuan pengobatan konservatif pada penderita gangguan gagal ginjal kronis (CGK) adalah untuk mempertahanka agar penderita tetap berada dalam kondisi fisik sebaik mungkin pada saat penderita masuk ke dalam stadium terminal untuk mendapatkan dialysis  ata transplantasi ginjal. Demikian pula kondisi inteletual penderita tetap optimal dan komplikasi serta akibat lainnya dapat ditekan sekecil mungkin. Komplikasi yang bisa terjadi dalam perjalanan penyakitnya adalah berupa peningkatan kadar urea darah, bahan-bahan yang berhubungan dengan CGK (peningkatan kadar natrium dan fosfat) dan hipertensi.

Posted in Gagal Ginjal Kronis | Tagged , , , , , | Leave a comment

Diet Gagal Ginjal Kronik

Gagal ginjal kronis menahun merupakan kerusakan ginjal yang progresif dan ireversibel karena suatu penyakit. End stage renal disease merupakan gagal ginjal terminal yang akan membawa kematian jika tidak dilakukan terapi dialysis atau transplantasi ginjal. Terapi diet gagal ginjal kronis hanya bersofat membantu memperlambat progresivitas gagal ginjal kronis. Pemberian suplemen seperti zat besi, asam folat, kaslium dan vitamin D mungkin diperlukan. Suplemen vitamin A tidak dibutuhkan sementara asupan mineral fosfor, magnesium, dan elektrolit tertentu seperti kalium dan natrium mungkin harus dikurangi. Pemberian suplemen vaitamin-mineral pada gagal ginjal kronis harus mengacu pada hasil-hasil pemeriksaan laboratorium seperti kadar hemoglobin , kadar kalium, natrium, dan klorida. Pada pasien-pasien gagal ginjal kronis, focus terapigizi adalah untuk menghindari asupan elektrolit yang berlebihan dari makanan karena kadar elektrolit bisa meninggi akibat klirens renal yang menurun.

Prinsip diet gagal ginjal kronis adalah ;

  1. Asupan kalori harus ditentukan pada tingkat yang bisa mencegah pemecahan lean tissue (protein) untuk memenuh kebutuhan energy. Jika energy dari makanan yang dikonsumsi tidak cukup, tubuh cenderung akan menggunakan simpanan protein dalam otot untuk  menghasilkan energy
  2. Asupan aklori dianjurkan sebesar 30-35 kal/kg BB/hari.
  3. Pembatasan protein diolakukan berdasarkan berat badan, derajat insufisiensi renal, dan tipe dialisi yang akan dijalani. Ketimbang protein nabati yang nilai biologisnya lebih rendah, maka penggunaan sumber protein hewani dengan nilai biologisnya lebih rendah, maka penggunaan sumber protein hewani dengan nilai biologisnya yang tinggi, seperti telur, daging, ikan dan ayam, harus dianjurkan.
  4. Kenaikan kadar serum magnesium, kalium, dan fosfor umumnya terjadi. Jika hal ini terjadi, bahan makanan yang kaya akan elektrolit tersebut perlu dihindari, seperti pisang, kacang hijau, air kelapa muda karena semua makanan ini banyak mengandung kalium.
  5. Pasien ginjal yang mendapat terapi antacid tidak boleh menggunakan antacid ang mengandung magnesium.
  6. Pembatasan garam sampai 3 g gram per hari.
  7. Asupan fosfor dari makanan akan menurun dengan diet gagal ginjal kronis rendah protein sehingga cukup ekeftif untuk mengendalikan keadaan hiperfosfatemia. Pemberian suplemen kalsium karbonat dapat dilakukan dokter bila dirasakan perlu untuk membantu mengurangi asupan fosfor namun menambah asupan kalsium.
  8. Suplemen vitamin D3, asam folat dan B6 (untuk pembentukan sel darah merah) dapat diresepkan oleh dokter. Pemberian vitamin A tidak dianjurkan pada penyakit ginjal stadium terminal karena toksisitas yang dilaporkan. Sementara itu, suplemen vitamin C tdak boleh lebih dari 100 mg.
  9. Membatasi asupan cairan jika diperlukan, misalnya pada keadaan edema atau asites, dan dengan memperhatikan volume urine yang diekskresikan.
Posted in Gagal Ginjal Kronis | Tagged , , , , , | Leave a comment

Gagal Ginjal Kronik

Gagal ginjal kronik adalah destruksi truktur ginjal yang progresif dan terus menerus. Selain itu pada individu yang rentan nefropati analgesic, destrusi papilla ginjal yang terkait dengan pemakaian harian obat-obat analgesic selama bertahun-tahun dapat menyebabkan gaga;l ginjal kronis. Apapun penyebabnya terjadi perburukan fungsi ginjal secara pprogresif yang ditandai dengan penurunan GFR yang progresif. Pada awal perjalanannya, keseimbangan cairan, penanganan garam, dan penimbunan produk sisa masih bervariasi dan bergantung pada bagian ginjal yang sakit. Sampai fungsi ginjal turun kurang datri 255 normal, manifestasi klinis gagal ginjal kronis mungkin minimal karena nefron-nefron lain yang sehat mengambil alih fungsi nefron yang rusak. Nefron yang tersisa meningkatkan laju filtrasu, reabsorpsi dan sekresinya serta mengalami hipertrofi dalam proses tersebut.

Seiring dengan makin banyak nefron yang mati, nefron yang tersisa menghadapi tugas semakin berat, sehingga nefron-nefron tersebyt ikut rusak dan akhirnya mati. Sebagian darin siklus kematian ini tampaknya berkaitan dengan tuntutan pada nefron-nefron yang ada untuk meningkatkan reabsorpsi protein. Seiring dengan penyusutan progresof nefron. Terjadi pembentukan jaringan parut dan penurunan aliran darah ginjal. Pelepasan rennin dapat meningkat dan bersama dengan kelebihan beban cairan, dapat menyebabkan hipertensi. Hipertensi sendiri mempercepat gagal ginjal kronis, mungkin dengan meningkatkan filtrasi (karena tuntutan reabsorpsi) protein plasma dan menimbulkan stress oksidatif.

Kegagalan ginjal pada gagal ginjal kronik membetuk eritropoietin dalam jumlah yang adekuat sering kali menimbulkan anemia dan keletihan akibat anemia berpengaruh buruk pada kualitas hidup. Selain itu, anemia kronis menyebabkan penurunan oksigenasi jaringan diseluruh tubuh dan mengaktifkan refleks-refleks yang ditujukan untuk meningkatkan curah jantung  guna memperbaiki ksigenasi. Refleks ini mencakup aktivasi susunan saraf simpatis dan peningkatan curah jantung. Akhirnya perubahan tersebut merangsang individu yang menderita gagal ginjal mengalami gagal jantung kongesif sehingga penyakit ginjal kronis menjadi satu faktor resiko yang terkait dengan penyakit jantung.

Gejala gagal ginjal kronis adalah ;

  1. Pada gagal ginjal stadium 1, tidak tampak gejala-gejala klinis
  2. Seiring dengan perubrukan penyakit, penurunan pembentukan eritropoietin menyebabkan keletihan kronis dan muncul tanda-tanda awal hipoksia jaringan dan gangguan kardiovaskular.
  3. Dapat timbul poliuria (peningkatan pengeluaran urine) karena ginjal tidak mampu memekatkan urine seiring dengan perburukan penyakit.
  4. Pada gagal ginjal stadium akhir, pengeluaran urine turun akibat GFR rendah.

Peradangkat diagnostic pada gagal ginjal kronis adalah ;

  1. Radiograf atau ultrasound akan memperlihatkan ginjal yang kecil dan atrofi.
  2. Nilai BUN serum, kreatinin dan GFR tidak normal.
  3. Hematokrit dan hemoglobin turun.
  4. pH plasma rendah
  5. peningakatan kecepatan pernapasan mengisyaratkan kompensasi pernapasan akibat asidosis metabolic.
Posted in Gagal Ginjal Kronis | Tagged , , , , , | Leave a comment

Penyebab dan Terapi Untuk Gagal Ginjal Kronis

Gagal ginjal kronis atau lebih dikenal dengan Chronic Kidney Disease (CKD), terjadi secara perlahan-lahan dalam jangka waktu lama, tidak dapat disembuhkan tetapi dapat diusahakan utnuk menghambat progresivitasnya. Penyebabnya adalah faktor glomerulonefritis (radang ginjal menahun), penyakit darah tinggi, kencing manis, batu ginjal dan batu saluran kemih yang kurang mendapat perhatian sehingga menimbulkan infeksi kronis dll.

Penyakit kencing manis adalah salah satu penyebab terbanyak dari gagal ginjal kronis. Pada gagal ginjal akut atau kronis, apabila sudah ada indikasi, sebaiknya diilakukan tindakan terapi ginjal pengganti. Hemodialisis atau cuci darah adalah salah satu bentuk terapi ginjal pengganti.

Pada penyakit gagal ginjal kronis yang sudah memasuki stadium 5 atau gagal ginjal terminal, cuci darah atau hemodialisis dilakukan selama seumur hidup. Dua kali dalam seminggu, masing-masing selama 4 jam. Tujuannya untuk membuang hasil metabolisme dan cairan yang tidak dapat dikeluarkan karena ginjal telah gagal menjalankan fungsinya. Tentunya melakukan perawatan cuci darah ini membutuhkan dana yang sangat besar, sekali dalam melakukan cuci darah diketahui membutuhkan dana sekitar 1-2 juta rupiah dalam 1 kali cuci darah.

Adapula terapi lainnya adalah pertoneal dialysis. Terapi ini dilakukan dengan cara membuang cairan dan membersihkan darah dari racun ureum melalui selaput dinding perut. Selain itu dikenal pula cangkok ginjal atau transplantasi yaitu mencangkokkan ginjal orang lain kepada si penderita gagal ginjal terminal. Pada penderita kencing manis, hemodialisis bisa dilakukan lebih awal meskipun fungsi kedua ginjal masih diatas 10%.

Posted in Gagal Ginjal Kronis | Tagged , , , , , | Leave a comment

Komplikasi Gagal Ginjal Kronis

Kemampuan ginjal membuang cairan berlebih sebagai urine (creatinine clearence rate) dihitung dari jumlah urine yang dikeluarkan tubuh dalam satuan waktu dengan mengumpulkan jumlah urine tersebut selama 24 jam yang disebut dengan C_crea (creatininine clearance). C_crea normal untuk pria adalah 95-145 ml/ menit sedangkan pada wanita 75-115 ml/menit.

Kreatinin merupakan hasil metabolisme sel otot yang terdapat di dalam darah setelah melakukan kegiatan. Ginjal akan membuang kreatinin darah ke urine. Bila fungsi ginjal menurun, kadar kreatinin di dalam darah akan meningkat. Kadar kreatinin normal dalam plasma darah adalah 0,6-1,2 mg/dL.

Gagal ginjal kronis

Ginjal yang sakit tidak bisa menahan protein darah (albumin) yang seharusnya dilepaskan ke urine. Awalnya terdapat dalam jumlah sedikit (mikro-albuminuria). Bila kondisinya semakin parah akan terdapat pula protein lain (protenuria).

Jadi, berkurangnya fungsi ginjal menyebabkan terjadinya penumpukan hasil pemecahan protein yang beracun bagi tubuh, yaitu ureum dan nitrogen. Gangguan itu disebut dengan sindroma uremia dengan gejala mual dan muntah.

Seperti penyakit menahun lainnya, penyakit gagal ginjal kronis juga disertai dengan penyakit lain sebagai penyulit atau komplikasi yang sering lebih berbahaya. Komplikasi yang seringkali ditemukan pada penderita penyakit gagal ginjal kronis adalah anemia, osteodisrofi ginjal, gagal jantung, dan disfungsi ereksi (impotensi).

Posted in Gagal Ginjal Kronis | Tagged , , , , , | Leave a comment

Penyakit Gagal Ginjal Kronis

Gagal ginjal kronis (GGK) adalah kemunduran fungsi ginjal yang ireversibel yang terjadi dalam waktu beberapa bulan atau tahun. Penyakit ginjal terminal (end stage renal disease atau ESRD) merupakan lanjutan dari gagal ginjal kronis yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk mempertahankan keseimbangan subtansi tubuh (akumulasi cairan dan produk sisa) dengan menggunakan penanganan konservatif. ESRD terjadi apabila fungsi ginjal yang masih tersisa kurang dari 10 %.

Tahapan gagal ginjal kronis

Keterangan gambar :

1. Ginjal normal→2. Ginjal yang rusak→3. Ginjal yang kronis

Penyebab gagal ginjal kronis meliputi berbagai faktor yang kongenital dan didapat, termasuk :

1. Penyakit glumerular seperti glomerulonefritis atau glomerulopati

2. Uropati obstruktif

3. Hipoplasia atua displasia ginjal

4. Gangguan ginjal yang diturunkan, seperti penyakit ginjal polikistik, sindrom nefrotik kongenital, sindrom alport

5. Neuropati vaskular

6. Kerusakan atau kehilangan fungsi ginjal, misalnya trauma ginjal berat dan tumor Wilms.

Pada orang dewasa penyakit gagal ginjal kronis terjadi akibat adanya komplikasi penyakit yang sebelumnya diderita seperti adanya penyakit diabetes, tekanan darah tinggi yang secara umum merupakan penyebab dari ESRD atau stadium akhir dari penyakit gagal ginjal.

Gagal ginjal kronis berhubungan dengan berbagai jenis disfungsi biokimia. Ketidakseimbangan natrium dan cairan terjadi karena ketidakmampuan ginjal untuk memekatkan urine. Hiperkalemia terjadi akibat penurunan sekresi kalium. Asidosis metabolik terjadi karena gangguan reabsorpsi bikarbonat dan penurunan produksi amonia.

Posted in Gagal Ginjal Kronis | Tagged , , , , , | Leave a comment